Skip to content

Rindu Desa

4 Januari 2018
tags:
landscape-1677537_960_720

Sumber Gambar: Pixabay.com

Aroma kayu bakar di pagi hari yang membuatku selalu rindu pada desa.

Terhitung sudah hampir lima tahun aku tidak mengunjungi desa, tepatnya sejak Bapak meninggal. Sepeninggalan Bapak, seperti ada jarak antara keluargaku dengan keluarga Bapak yang ada di desa. Kami sekeluarga, ketika Bapak masih ada, rutin berkunjung ke desa ketika lebaran tiba. Tradisi itu luntur, selain faktor Bapak yang sudah tidak ada, kerena intensitas komunikasi keluargaku dengan keluarga Bapak kurang –hal ini berbanding terbalik dengan keluarga Ibu.

Beberapa kali, saat aku sedang merenung sendiri, aku merasa rindu dengan desa, tempat kelahiran Bapak. Aroma kayu bakar tiap paginya selalu tercium ketika aku sendirian membayangkan desa. Cuaca pagi yang dingin ditambah airnya yang juga dingin, membuat rasa kangenku begitu menumpuk. Makanan yang selalu dihidangkan keluarga di desa juga selalu terbayang dalam ingatanku. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dari masakan yang selalu disuguhkan keluarga desa pada kami setiap kami berkunjung, hanya nasi rawon atau semur daging –dua makanan yang jamak ditemui di kota Surabaya. Hanya saja, yang membedakan, suasana itu yang tidak bisa aku dapatkan lagi ketika aku menyantap rawon atau semur di Surabaya. Perbedaan itu tidak bisa aku gambarkan, tapi yang pasti pembaca sudah paham apa yang aku maksudkan. Baca selanjutnya…

Iklan

Mengkritik Orba ala Cak Nun

4 Januari 2018

(Pernah Dimuat di Qureta.com, 15 Oktober 2017)

20171015_191353~2

Judul Buku: Saat-Saat Terakhir Bersama Soeharto
Penulis: Emha Ainun Nadjib
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun Terbit: September 2016 (Cetakan Kedua)
Tebal: 189 halaman
ISBN: 978-602-291-206-4

Dari sekian buku Cak Nun pernah saya baca –BH, Jejak Tinju Pak Kiai, Indonesia Bagian dari Desaku dan lainya- hanya buku ini yang mengupas secara mendetail tentang hubungan Beliau dengan rezim Orba. Awalnya, saya menganggap bahwa Cak Nun tidak bersinggungan langsung dengan Orba. Sebelum membaca buku ini, saya anggap Cak Nun sebagai sosok ulama yang fokus memberi ceramah di kawasan pinggiran perkotaan. Anggapan awal saya ini terbantahkan, karena Cak Nun memiliki peran besar selama rezim orde baru. Cak Nun, pada saat itu, lantang namun tetap santun mengkritik orde baru yang sudah berkuasa selama 32 tahun. Namun patut disayangkan, hampir semua “suara” Cak Nun tidak dimuat media pada saat itu. Bagaimana dimuat wong tulisan Cak Nun begitu jujur, dan tanpa basa-basi langsung menyuarakan agar Soeharto segera lengser keprabon. Media-media besar takut memuat buah pikiran Cak Nun, karena rezim Orba sangat anti terhadap kritik. Pembredelan media bukan menjadi hal yang sulit bagi rezim Orba melalui departemen peneranganya –salah satu korbanya adalah Tempo, pada tahun 80-an.

Isi buku ini, secara substansial, tidak beda jauh dengan buku-buku Cak Nun sebelumnya yang mengusung semangat kemanusiaan yang berjalin erat dengan relijiusitas. Buku yang berisi tulisan-tulisan pendek Cak Nun –dan ada pula tulisan dari Cak Nur- ini banyak membahas tentang problem gejolak kemanusiaan yang terjadi di era orde baru. Tema-tema tentang degradasi moral para petinggi Negara; culasnya para oprtunis yang mencari untung di masa transisi kekuasaan, pasca runtuhnya orde baru; susahnya rakyat membeli beras, karena krisis moneter; dan masih banyak lagi. Baca selanjutnya…

Mazhab Frankfurt dan Revisi Pemikiran Karl Marx (Ulasan Buku “Herbert Marcuse”)

7 Maret 2017

(Pernah dimuta di http://www.qureta.com, 9 September 2016)

Mencari literatur yang secara khusus membahas pemikiran tokoh mazhab Frankfurt cukup susah ditemukan, menurut pengalaman pribadi penulis. Banyak literatur yang membahas marxis, hanya meletakan mazhab Frankfurt di sub-bab tertentu saja. Untuk itu buku karya Valentinus Saeng ini bisa menjadi salah satu oase tersendiri.

Buku yang diberi anak judul “Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global” cukup menggoda untuk dibaca. Meskipun buku ini di beri judul “Herbert Marcuse”, tapi buku ini tidak hanya membahas latar belakang kehidupan Marcuse, Mazhab Frankfurt sebagai lembaga yang menaungi Marcuse juga dibahas secara lengkap dalam buku ini. Baca selanjutnya…

Robert K. Merton, Revisi dan Kritik Teori Struktural Fungsional

2 Februari 2017

Dalam kajian sosiologi terdapat beberapa paradigma teori. Menurut George Ritzer dalam Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, sosiologi memiliki tiga paradigma utama (meskipun pada perkembanganya Ritzer insyaf, karena tidak memasukan postmodern):

  1. Paradigma Fakta Sosial: Tokoh sosiologi yang bernaung dalam paradigma ini percaya bahwa dalam kajian sosiologi yang perlu mendapat perhatian adalah struktur dan masyarakat. jadi, dalam paradigma ini sosiologi harus bisa memberi penjelasan atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan menggunakan sudut pandang makro. Salah satu Sosiolog yang bernaung dalam paradigma ini dan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Robert K. Merton.
  2. Paradigma Definisi Sosial: Berbeda dengan paradigma fakta sosial, tokoh yang dianggap bagian dari paradigma definisi sosial meyakini bahwa untuk mengkaji masyarakat, sosiologi harus berangkat dari individu. Para Sosiolog dalam paradigma ini menganggap bahwa struktur dalam masyarakat bisa terbentuk karena adanya interaksi antar individu. Sosiolog yang bernaung dalam paradigma ini salah satunya Herbert Mead.
  3. Paradigma Perilaku Sosial: Paradigma perilaku sosial lahir dari perpaduan antara kajian sosiologi dengan psikologi-behavioristik. Menurut penganut paradigma ini, dalam mengkaji masyarakat, khususnya ilmu sosial, para peneliti harus melihat perilaku individu yang tidak lepas dari proses timbal balik stimulus-respon. Tokoh yang terkenal dalam paradigma ini adalah B. F. Skinner.

Baca selanjutnya…

Review Novel: Dunia Anna

14 Januari 2016
23433546

Sumber Gambar: goodreads.com

 

Penulis: Jostein Gaarder

Penerbit: Mizan

Tahun Terbit: 2008

Novel ini berkisah tentang seorang anak berusia 16 tahun yang perihatin menyaksikan lingkungan sekitarnya telah mengalami perubahan yang luar biasa. Perubahan tersebut terjadi bukan perubahan menuju ke arah yang lebih baik, tapi perubahan tersebut justru mengarah pada kehancuran ekosistem di bumi. Kesadaran Anna ini timbul ketika dia melakukan perjalananya ke rumah saudaranya untuk merayakan libur natal yang bertepatan dengan musim salju. Tidak seperti natal sebelumnya natal pada saat itu Anna berumur 10 tahun terlihat berbeda karena tidak ada salju. Baca selanjutnya…