Skip to content

Keceplosan

2 Februari 2015

Dalam aktifitas sehari hari, kita tidak lepas dari aktifitas tuturan. Aktifitas tuturansendiri adalah aktifitas yang berhubungan dengan bahasa verbal (ngobrol). Dalam aktifitas mengobrol, akan terjalin interaksi antar individu, syarat terjadinya interaksi sendiri diantaranya terdapat 2 individu ataupun lebih. Mengobrol menjadi bagian aktifitas rutin yang kita lakukan, entah itu sewaktu jam istirahat, nogkrong dan masih banyak lagi. Sewaktu kita mengobrol dengan kerabat kita terkadang ada kata kata yang sebenarnya tidak ingin kita ucapkan, tetapi secara tidak sengaja keluar dari mulut kita (saya sering mengalaminya 😀 ). Kata kata yang keluar tidak sengaja ini dalam masyarakat kita disebut keceplosan. Mungkin bagi kita keceplosan ini merupakan hal biasa dan banyak sekali menggunakan keceplosan ini sebagai ajang untuk menghibur orang lain (beberapa artis di televisi). 

Dalam ilmu psikoanalisis keceplosan, merupakan fenomena yang berhubungan dengan ilmu tentang kejiwaan. Salah satu tokoh besar dalam psikoanalisis atau bisa dikatakan bapak dari psikoanalisis, Simund Freud sejatinya jiwa manusia terdiri dari 3 komponen, yaitu Id, ego, dan super ego (Bertens, 2011:72).

Id sendiri mancakup naluri naluri bawaan manusia seperti naluri seksualitas, kesenangan dan segala hal yang bersifat kenikmanat badaniah manusia, Id dalam diri manusia juga mencakup dengan ketidaksadaran manusia. Ketidaksadaran ini dicontohkan Freud bahwa pada anak yang baru lahir unsur dirinya sebagian besar dipenuhi Id, hal ini terlihat bayi yang baru lahir sudah mengetahui bagaimana dia mendapatkan salah satu nutrisinya, yaitu dengan menghisap puting susu si Ibu tanpa diajarkan terlebih dahulu. Superego mencakup segala nilai moral atau beberapa sumber buku mengatakan ada kesamaan dengan hati nurani. Superego ini diibaratkan seperti institusi dalam tubuh kita yang akan mamberikan seperti bisikan apakah tidakan kita itu baik, atau buruk. Dan yang terakhir ego, posisinya sebagai penengah antar Id dan Superego, karena menurut Freud sendiri dalam diri kita ada pertentangan antara ego dan super ego.

Terus bagaimana dengan keceplosan sendiri ?. Sebagian besar aktifitas manusia dilakukan atas ketidaksadaran. Ketidaksadaran diakibatkan, karena ada sesuatu hal atau traumatik tertentu yang kita berusaha pendam dalam alam bawah sadar atau ketidaksadaran diri kita. Jika hal yang ingin ditekan tersebut dikubur dalam ketidak sadaran, dia akan berusaha mendobrak dan muncul kedalam kesadaran. Contoh gampangnya Freud memberikan peumpamaan seperti ini :

“Marilah kita andaikan saja bahwa dalam ruang kuliah ini eorang diantara kita tertawa secara tidak sopan, mengobrol, dan menggeserk geserkan kaki, sehingga konsentarsi atas ceramah bagi saya tidak mungkin lagi. Terpaksa saya memberitahukan bahwa saya tidak dapat melanjutkan ceramah. Pada saat itu beberapa orang orang kuat mengusir si pengacau dari ruang kuliah ini. Jadi ia sekarang direpresi dan sekarang saya dapat melanjutkan kuliah saya. Tapi supaya pengacau tadi tidak masuk saya meyuruh kedua orang tadi untuk mengganjal pintu dengan kursi, menghindari agar oknum tadi tidak berusaha untuk masuk. Ruang kuliah ini diibaratkan sebagai kesadaran dan yang oknum yang berada diluar berada pada ketidak sadaran. Akan tetapi oknum yang berada diluar (ketidak sadaran), terus berusaha masuk dengan menggedor gedor pintu dan berteriak, sehingga menggaggu yang berada di dalam ruangan (kesadaran)” (Freud, 1991:19).

Jika merujuk dari pnjelasan diatas, maka keceplosan ini bisa dimasukan dalam Id, karena dia meliputi ketidaksadaran. Keceplosan juga biasanya berasal dari kata kata yang sebenarnya kita tidak ingin mengatakanya kepada seseorang entah itu karena alasan takut menyinggung lawan bicaranya atau karena alasan lain, sehingga kita menekanya pada alam bawah sadar. Akan tetapi semakin kita menekanya semakin yang ditekan itu akan keluar, soulusinya apa ?. Menurut Freud solusinya membuka pintu yang sebelumnya tertutup erat tersebut dan mendamaikan hal yang di tekan tersebut, Freud menyebutnya sebagai metode asosiasi bebas.

Daftar Pustaka

Bertens, K. 2011. Etika. Jakarta: Gramedia.

Freud, Sigmund. 1991. Memperkenalkan Psikoanalisia. Jakarta: Gramedia .

Iklan
2 Komentar leave one →
  1. 3 Februari 2015 01:29

    Woooo bahaya emang keceplosan, antisipasi cuman via think before do/speak

  2. 3 Februari 2015 15:23

    bener dipkir disek baru dicandak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: