Skip to content

Plato dan dunia Ide-nya

2 Februari 2015

Sumber Gambar: http://indobeta.com

Bagaimana seorang tukang kursi pertama di dunia ini membuat kursi ?, apakah tukang kursi itu sudah mempunyai gambaran kursi dalam benaknya, sementara belum ada yang membuat kursi sebelum dia ?, terus bagaimana si tukang kursi itu mendapatkan konsep kursi dalam pikiranya ?. berbagai pertanyaan tadi menjadi perdebatan para filsuf sampai saat ini, dari filsuf empiris (bertolak dari pengalaman indra) mengatakan bahwa ada wujud atau benda kursi dahulu baru konsep kursi didapatkan, sementara dari filsuf rasionalis (bertolak dari pemikiran) mengatakan bahwa konsep dahulu baru si tukang kursi bisa membuat kursi. Inti dari pertentangan dua pandangan ini jika disederhanakan yaitu : esensi (konsep, isi) dahulu atau eskistensi (benda, wujud) dahulu ? .

Salah satu dari trinitas filsuf klasik Plato berpayung pada filsafat aliran rasionalis, bahkan dia menjadi pioner dari kaum rasionalis. Menurut Plato esensi terlebih dahulu sebelum adanya eksistensi, hal ini tak lepas dari latar belakang Plato sebagai murid Socrates yang beraliran rasionalis. Menurut Plato pada dasarnya manusia lahir sudah dengan konsep bawaan. Kok bisa begitu ?, hal ini karena menurut Plato manusia terdiri dari dua bagian yaitu tubuh dan ruh. Sebelum manusia lahir ke dunia, ruh kita menurutnya sudah hidup dalam dunia ide. Dalam dunia Ide kita sudah melihat dunia yang sejati, entah itu berkaitan dengan benda, hewan, tumbuhan dan segala sesuatu yang ada di dunia. Dunia kita ini menurut Plato hanya kopian dari dunia ide, dan dunia ini adalah bentuk yang tidak sempurna dari dunia Ide.

Dalam Novel karya Jostein Gaarder “Dunia Sophie”, dijelaskan satu bab khsusus mengenai Plato. Dalam novel itu ada penjelasan menarik tentang cerita mengenai gua yang bisa menggambarkan dunia ide menurut Plato. Dalam cerita gua tersebut digambarkan ada beberapa orang pemuda yang terperangkap di gua, di dalam gua tersebut tangan dan kaki mereka terikat dan menghadap dinding gua dan membelakangi mulut gua. Didekat mulut gua tersebut ada lilin sebagai penerangan, sehingga apapun yang lewat seperti hewan, manusia dan apapun akan terpantul bayanganya ke dinding gua. Pantulan bayangan dalam gua tersebut menurut pemuda yang ada di dalam gua tersebut merupakan realitas sesungguhnya, karena para pemuda tersebut telah begitu lama menghadap dinding gua dan tidak bisa melihat langsung ke mulut gua.

Dari cerita tersebut, menurut Plato bayangan yang dilihat para pemuda tersebut merupakan realitas semu, karena hanya kopian dari dunia ide. Sementara segala sesuatu yang melewati mulut gua dan membentuk bayangan itu merupakan realitas yang sebenarnya.

“Jiwa rindu dengan dunia ide, dia ingin terbang dengan sayap cinta, menuju dunia ide” (Plato).

Sumber Gambar:Β http://indobeta.com

Iklan
4 Komentar leave one →
  1. 3 Februari 2015 12:06

    filsafat plato ini banyak di pelajari sama mahasiswa jurusan filsafat

  2. 3 Februari 2015 15:17

    Saya jurusan sosiologi, tapi di sosiologi sedikit sedikit dibahas tentang pemikiran para filsuf πŸ™‚

  3. 3 Februari 2015 16:42

    Belajar filsafat di sini πŸ™‚

  4. 4 Februari 2015 17:16

    sama sama masih belajar saya πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: