Skip to content

Hedonisme

5 Februari 2015

sumber gambar: ayumulyara.blogspot.com

Jika kita mendengar kata hedonisme, dalam benak kita akan terbayang tentang gaya hidup hura hura, konsumtif, kelas atas dan segala tetek bengeknya yang berurusan dengan kesenangan dunia. Kata kata hedonisme dalam beberapa media seperti telivisi juga sering digambarkan dengan kata kunci yang saya sebutkan di awal tadi. Kata hednosime terkadang menjadi kata kata penghakiman yang kita lontarkan terhadap orang di sekitar kita seperti sahabat, saudara dan lainya, yang memiliki gaya hidup berhura hura. Penggunaan kata hedonisme ini memang terkdang tidak dicari maknanya, sehingga penggunaan kata hedonisme ini sebenarnya sudah keluar dari makna aslinya. Pengguanaan kata hedonism ini bisa saya katakan seperti penggunaan kata teroris, yang serampangan di labelkan kepada orang lain. Penyalah gunaan  ini semakin kokoh berdiri dengan sokongan media. Menurut Glenn Greenwald selaku pengamat media Amerika serikat menyatakan bahwa “teroris adalah kata yang tidak mempunyai makna pasti dan sering disalah gunakan”. Penyalahgunaan kata teroris oleh kita yang disokong oleh media,  mungkin juga terjadi pada kata hedonisme, akan tetapi disini tidak akan dibahas lebih jauh lagi mengenai peran media dalam penyalahgunaan arti kata tertentu. Disini akan sedikit dibahas mengenai apa itu hedonisme?

Hedonisme sebenarnya merupakan salah satu aliran filsafat. Hedonisme berasal dari kata Hedon (kesenangan). Filsafat hedonisme ini juga biasa disebut filsafat taman, karena para pengikutnya selalu berkumpul dan mempelajari filsafatnya di taman. Secara garis besar Hedonisme adalah aliran filsafat yang ajaranya mengejar kenikmatan sebesar besarnya dan meninghidari rasa sakit (Bertents,250:2011). Aliran filsafat ini dicetuskan oleh salah satu murid Socrates yaitu Aristippos. Suatu ketikat Socrates mengajarkan filsafatnya dan bertanya pada muridnya “Apa tujuan akhir manusia?”,  waktu itu banyak murid Socrates yang menjawab pertanyaan itu, akan tetapi jawaban dari muridnya tidak ada yang memuaskan Socrates, sampai beberapa saat Aristippos menjawab bahwa “kesenangan dan kebahagiaan adalah tujuan manusia” , dan jawaban itu bisa membuat puas Socrates.

Pada perkembanganya ajaran hedonisme Aristippos dilanjutkan oleh muridnya yaitu Epikuros dan pengikutnya dinamakan Epikurean. Ajaran hedonisme pada awalnya bertumpu pada keinginan manusia mengejar kenikmatan dan menghindari rasa sakit. Menurut Epikuros sendiri sejatinya keinginan di bagi menjadi 3 keinginan, yaitu alamiah (contohnya seperti memenuhi kebutuhan dasar makan dan minum), keinginan alamiah sia sia (contohnya makan dan minum berlebihan), dan keinginan sia sia (kemewahan) (Bertens, 251:2011). Menurut Epikuros manusia sejatinya mengejar keinginan alamiah. Secara tersirat sesungguhnya ajaran hedonisme Epikuros mengajarkan kita untuk hidup sederhana, karena dari kesederhana manusia akan mendapatkan Antraxia (ketenangan).

Dari tulisan diatas semoga kita bisa lebih bijak menggunakan kata hedonisme ini, dengan cara tidak member lebel seorang hedonis secara sembarangan pada orang lain. Dan juga kita tidak lagi menyamakan arti kata hedonisme dengan konsumtif boros dan hal buruk lagi yang biasanya disandingkan dengan kata hedonisme

Daftar Pustaka

Bertens, K. 2011. Etika. Jakarta: Gramedia.

Sumber Gambar: ayumulyara.blogspot.com

Iklan
One Comment leave one →
  1. Detektif Fariz Edgar permalink
    6 Februari 2015 00:36

    Reblogged this on detektif fariz edgar and commented:
    Hedonisme sebenarnya merupakan salah satu aliran filsafat. Hedonisme berasal dari kata Hedon (kesenangan). Filsafat hedonisme ini juga biasa disebut filsafat taman, karena para pengikutnya selalu berkumpul dan mempelajari filsafatnya di taman. Secara garis besar Hedonisme adalah aliran filsafat yang ajaranya mengejar kenikmatan sebesar besarnya dan meninghidari rasa sakit (Bertents,250:2011). Aliran filsafat ini dicetuskan oleh salah satu murid Socrates yaitu Aristippos. Suatu ketikat Socrates mengajarkan filsafatnya dan bertanya pada muridnya “Apa tujuan akhir manusia?”, waktu itu banyak murid Socrates yang menjawab pertanyaan itu, akan tetapi jawaban dari muridnya tidak ada yang memuaskan Socrates, sampai beberapa saat Aristippos menjawab bahwa “kesenangan dan kebahagiaan adalah tujuan manusia” , dan jawaban itu bisa membuat puas Socrates.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: