Skip to content

Filfsat itu Ateis (?)

8 Februari 2015

Ndik baca apa ?, saya jawab : sedang baca buku filsafat. Wah kamu gag percaya tuhan ya ?. ya begitulah sedikit pengalaman penulis, hal itu terjadi pas penulis menjalani kegiatan KKN dari kampus. Mungkin kita masih ingat beberapa tahun yang lalu media sempat dihebohkan dengan aktifitas MOS mahasiswa salah satu universitas negeri di Surabaya, jurusan filsafat. Dalam acara tersebut MOS mahasiswa membentangkan sepanduk bertuliskan “Tuhan Membusuk”.  Padahal di spanduk tersebut ada sub judul (saya lupa sub judulnya), yang kurang lebih artinya (saya baca di jawapos pada saat itu), bahwa bukan tuhan secara harfiah yang dimaksud membusuk akan tetapi nilai nilai ketuhanan sudah mulai dilupakan oleh masyarakat kita saat ini. Terkadang ungkapan ungkapan yang berbau filsafat yang dilempar ke public terkadang menimbulkan prasangka tersendiri, pernyataan filsafat sejatinya tidak bisa dimaknai secara harfiah saja, akan tetapi ada makna yang tersirat dari pernyataan tersebut. Banyak dari kita yang menganggap bahwa filsafat identik dengan filsafat.

Sebelum membahas ini lelbih lanjut, apa yang dimakasud dengan Ateis dan filsafat ?. Ataeis sendiri terdiri dari dua kata, A (tidak) Theis (percaya akan eksistensi tuhan). Filsafat terdiri dari 2 kata philo dan Sophia (cinta akan kebijaksanaan). Jadi penegrtian ateis adalah ketidak percayaan eksistensi Tuhan.

Anggapan banyak orang yang mengidentikan filsafat dengan ateis ini sudah terjadi sejak masa hidup Socrates. Semasa hidupnya Socrates memang dikenal sebagai sosok yang mengkritisi masyarakat Yunani, khususnya dalam kepercayaan yang dianut masyarakat Yunani pada saat itu. Socrates menganggap Socrates kepercayaan kepada para dewa yang dianut oleh masyarakat Yunani, bisa dikatakan diluar akal sehat. Karena dewa dewa tersebut menurut Socrates tak ubahnya seperti manusia yang memiliki nafsu (Zeus yang beberapa kali menyetubuhi manusia). Karena kecamanya terhadap para dewa socrate dianggap sebagai sosok yang merusak generasi muda dengan ajaranya, dan akhirnya  Socrates dihukum mati. Anggapan miring itu masih terjadi sampai sekarang. Cukup miris memang, dimana filsafat yang justru melahirkan cabang ilmu pengetahuan yang kita gunakan sampai sekarang, seperti ilmu matematika (Phytagoras), teori gravitasi (Isaac Newton), Heliocentris (Galileo Galilei), dan ilmu pengetahuan lainya, mereka semua adalah filsuf yang memberikan sumbangsih besar pada dunia.

Anggapan filsafat diidentikan dengan ateis, ini diakibatkan filsafat selalu mempertanyakan “Ada”, termasuk juga wujud dan eksistensi tuhan. Pencarian filsafat tentang tuhan ini tidak lebih proyek besar filsafat untuk mencari kebenaran, agar kita tidak terjebak oleh dogma dogma yang justru menutupi kebenaran.

Sebenarnya banyak sekali filsuf yang mengajarkan filsafatnya dengan dipadukan dengan kebenaran agama, tetapi juga banyak juga filsuf yang menentang eksistensi tuhan tapi tidak dibahas dulu dalam posting ini. Beberapa filsuf yang ajaranya justru berdasarkan eksistensi Tuhan (theistic) seperti Immanuel Kant, yang ajaranya secara garis besar menyatakan bahwa manusia memiliki keterbatasan rasio oleh sebab itu manusia harus percaya akan eksistensi tuhan, Rene Descartes yang ajaranya kita harus berfikir untuk eksis dan metode kesangsian yang menurut Descartes ada gagasan sempurna yang tidak dimilki manusia dan tuhan memilikinya, St Agustin dengan teologi yang dipadukan dengan dunia ide Plato, Thomas Aquinas dengan teologi yang dipadukan dengan tingkatan alam Aristoteles dan masih banyak lagi filsuf yang berhaluan theistic lainya.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: