Skip to content

Peleburan Selera Penikmat Acara Ajang Pencarian Bakat

5 Maret 2015

Acara ajang pencarian bakat yang ditayangkan di televise semakin manarik banyak peminat. Mulai dari warung kopi, ruang keluarga sampai di terminal, terpampang televise yang menayangkan acara acara pencarian bakat tersebut. Ajang pencarian bakat yang disiarkan televise, khususnya dalam hal music. Perbincangan mengenai siapa yang akan dieliminasi ataupun penampilan dari para pesertanya, mendominasi ruang ruang public baiki itu dari kalangan ibu rumah tangga sampai para remaja.

Perbincangan mengenai satu topic yang sama ini pernah penulis alami sendiri, tepatnya ketika nogkrong di warung kopi langganan. Pada waktu itu si empunya warung menyetel salah satu acara ajang pencarian bakat dalam music dangdut. Hampir semua pengunjung warung asik menonton dan mengkritik penampilan dan juri yang ada. Pengalaman lain juga diceritakan oleh teman penulis ketika nongkrong juga, teman penulis yang bekerja di salah satu kafe di Surabaya menuturkan sampai bosan dengan topic pembicaraan teman kerjanya, karena yang dibahas hanya berkutat soal ajang pencarian bakat tersebut.

Pembicaraan dan minat yang hampir seragam terhadap acara ajang pencarian bakat ini merupakan salah satu bentuk dari mulai meleburnya selera para penikmat media, yang awalnya bersifat heterogen menjadi lebih homogen. Hal ini menjadi salah satu indikasi bahwa sekat antara kalangan atas dan bawah menjadi agak mencair (hipotesis). Sekat dalam konteks ini hanya berkutat pada acara ajang pencarian bakat. Jika dulu mungkin kalangan atas atau beberapa golongan tertentu diidentikan dengan selera tertentu, akan tetapi dengan adanya acara ajang pencarian bakat ini semua hal yang diidentikan tersbut cenderung melebur.

Dalam hal ini acara ajang pencarian bakat bisa disebut sebagai budaya pop. Menurut salah satu tokoh posmodern Jean Baudrillard budaya pop adalah budaya massa yang diciptakan dari kalangan bawah sebagai bentuk pendobrakan sekat sekat kelas dan sebagai ajang perlawanan budaya kalangan atas. Budaya pop juga diidentikan dengan budaya massa, artinya budaya yang diciptakan dengan teknik teknik industry dan budaya massa lebih menekankan pada profit dengan meminggirkan unsure estetisnya.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: