Skip to content

Makan di kafe pingin kenyang atau pingin gaya (?)

8 Maret 2015

Makan di kafe atau warung pinggir jalan ?,jujur kalau ditanya itu saya akan menjawab makan di warung, karena hargnya lebih murah dan posrsinya biasanya lebih banyak 😀 . kalau pertanyaan ini ditanyakan kepada orang lain jawabanya akan beragam disertai jawaban yang beragam pula. Ada yang menjawab lebh senang makan di warung, karena alasanya sama dengan jawaban saya, ada yang jawabanya lebih seneng di kafe karena terkesan lebih bersih karena nggak terkena debu dan macam macam jawaban lainya. Sebenarnya makan di kafe ataupun makan di warung pinngir jalan sama saja, tergantung selera orang yang akan makan. Akan tetapi jika kita berfikir lagi kenapa orang lebih suka makan di kafe ?, pertanyaan mewakili judul yang saya tulis.

Jika boleh saya berpendapat makan di kafe ataupun di warung sejatinya sama, yaitu untuk memenuhi kebutuhan perut yang sudah keroncongan, akan tetapi kenapa beberapa orang memilih pergi ke kafe yang notabenya harga yang ditwarkan jauh lebih mahal dari warung pinggir jalan ?, jawaban dari pertanyaan ini mungkin sudah saya jabarkan diatas salah satunya alasan kebersihan, akan tetapi masih ada motif lain menurut saya yaitu prestise atau kebanggaan sewaktu bisa makan di kafe tertentu. Prestise atau kebanggaan ini didapatkan ketika orang yang makan di kafe tersebut bisa memperlihatkan aktifitas makan di kafe tersebut di hadapan orang banyak.

Memperlihatkan aktifitas makan ataupun nongkrong di kafe ini tidak lepas dari bantuan social media entah itu facebook, twitter,path, instgram dan bebagai macam social media yang menggunakan jalur internet. Peran social media pada masyarakan modern ini bisa dikatakan salah satu sumber informasi bagi kita untuk mengetahui aktifitas orang ataupun kelompok tertentu,hal ini memang disebabkan tujuan dari terciptanya social media ini adalah untuk menghubungkan banyak orang dalam satu wadah.

Dalam setiap aktifitas kita terkadang kita selalu membagi apa yang sudah kita kerjakan melalui social media, salah satunya adalah saat kita makan ataupun nongkrong di kafe. Hal ini bisa kita amati sendiri sewaktu ada beberapa remaja yang sedang nongkrong di kafe dan memesan makanan, ada suatu ritual sendiri sebelum makanan tersebut dimakan bukanya berdoa tetapi memfoto makanan tersebut dan mengunggahnya ke situs social media dan foto tersebut biasanya disertai dengan keterangan tempat ataupun kafe yang sedang dikunjunginya. Dari sini terlihat makanan yang disajikan tak lebih dari hasrat pemuas dari narsisme dari pada untuk pemenuhan kebuthan diri akan nutrisi yang ada dalam makanan tersebut.

Menurut Jean Baudrillard (dalam Medhy Aginta Hidayat, 2012) mengenai masyarakat pada era kapitalisme lanjut ini diidentikan dengan masyarakat konsumsi dan pengkonsumsian tersebut tidak didasarkan atas dasar kegunaan (nilai guna) dan harga (nilai tukar), akan tetapi lebih dominan prestise (nilai tanda). Pandangan Baudrillard ini diadopsi dari pemikiran Marx dimana pada masa komunal primitive nilai guna barang sangat di tekankan contoh pada masyarakat primitive tidak ada alat tukar seperti uang pada masyarakat primitive tersebut masyarakat menciptakan tombak untuk berburu mencari makan dan tombak itu tidak dijual untuk makan dan pada masyarakat kapitalisme awal nilai tukar lebih ditekankan disini alat tukar yaitu uan sudah diciptakan tombak tidak hanya dipergunakan untuk berburu melainkan juga bisa dijual untuk mendapatkan uang dan uang tersebut bisa dibelanjakan barang lainya. Dari teori nilai guna dan nilai tukar ini Baudrillard mencetuskan nilai tanda dia membantah pendapat Marx yang menyatakan nilai tukar lebih dominan pada masyarakat kapitalisme seperti saat ini akan tetapi nilai tanda yang lebih dominan, artinya orang mengkonsumsi sesuatu tidak didasarkan atas kegunaan ataupun harganya akan tetapi kepuasan dalam prestise yang dikejar.

Dari pandangan Baudrillard ini jika saya boleh berpendapat bahwa pertimbangan orang atau khususny para remaja untuk makan di kafe tidak hanya didasarkan untuk memenuhi kebutuhan perut saja, akan tetapi lebih kepada nilai tanda (prestise) yang dikejar, hal ini terlihat pengorbanan menguras dompet hanya untuk memfoto makanan tersebut, menguploud ke social media, mendapatkan banyak like dan komentar tanpa mendapat salah satu esensi dari makan yaitu kenyang.

Daftar Pustaka

Aginta Hidayat, Medhy. 2012. Menggugat Modernisme. Yogyakarta: Jalasutra.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: