Skip to content

Radikalisme dalam Media

3 Mei 2015
tags: ,

Akhir akhir ini dunia pendidikan digegerkan oleh masuknya buku teks agama yang berbau radikal. Teks agama tersebut beberapa point yang saya ingat yaitu: (1) diperbolehkan membunuh orang yang beragama di luar Islam, (2) menyanjung nabi sama dengan menyekutukan Allah, dan beberapa poin yang saya lupa. Masuknya teks agama yang dianggap radikal ini tak urung membuat KEMENDIKBUD serasa kebakaran jenggot, buku buku teks agama yang sudah dibagikan di kalangan pelajar tersbut ditarik, akan tetapi penarikan buku tersebut mengalami kendala karena penarikan buku tersebut tidak bisa ditarik secara sepenuhnya diakibatkan ada beberapa pelajar yang enggan mengembalikan dengan berbagai alasan. Tersebarnya buku teks agama yang di cap radikal ini dikhawatirkan oleh pihak pihak yang terkait sebagai bentuk pembibitan calon calon teroris baru (katanya). Kasus ini sempat hangat diperbincangkan di media, bahkan ada beberapa saluran TV yang mengundang beberapa pakar untuk menganalisis kasus ini.

Berita lain yang sampai sekarang masih diekspos oleh media adalah masalah gerakan ISIS, yang semakin mengkhawatirkan. Media menganggap gerakan ISIS ini adalah gerakan radikal yang dengan tindakan tindakan represif untuk mencapai tujuanya. Berita terakhir yang saya ikuti gerakan ini menghancurkan situs sejarah di negara tertentu. Dalam pergerakanya ISIS tak segan segan melakukan tindakan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa untuk mencapai tujuanya yang tidak lain adalah mendirikan negara yang berlandasakan ideologi yang mereka sokong.

Dari kedua uraian berita yang disampaikan media banyak menggunakan kata radikal sebagai sandingan kasus kasus diatas, Isis sebagai gerakan radikal dan buku teks agama radikal. Jika dilihat dengan seksama bukan kali ini saja media menggunakan kata radikal dalam setiap pemberitaanya, akan tetapi sudah banyak berita yang disampaikan media kepada masyarakat yang menggunakan kata kata radikal sebagai judul headline beritanya. Jadi kesimpulan yang bisa kita ambil dari penyampaian pesan tentang makna arti dari radikalisme itu adalah sinonim dari hal hal yang sifatnya negatif. Apakah memang begitu ?

Terkadang media memang jarang sekali melakukan penjerniahan makna, termasuk tenatang arti dari radikalisme ataupun radikal. Penjernihan makna ini menurut saya perlu dilakukan, karena jika tidak kata radikal ataupun radikalisme ini digunakan secara sembarangan bahkan digunakan untuk melabeli seseorang ataupun kelompok yang telah melakukan tindakan negatif. Jadi apa itu radikalisme ? dan apakah radikalisme itu memang berkonotasi negatif ?

Dari beberapa kuliah yang saya ikuti dosen saya menerangkan bahwa radikalisme itu adalah mempertanyakan ataupun menggoyahkan apa yang sudah didapatkan dan yang dipertanyakan itu sifatnya sudah mapan dalam masyarakat kita, dan hal itu harus dibarengi dengan praxis (seragamnya tindakan, pikiran dan juga karya) yang jelas. radikalisme atau radikal juga bukan berkonotasi negatif akan tetapi positif, karena radikalisme secara tegas menolak hal sudah mapan dalam masyarakat. Menolak disini dalam arti radikalisme tidak mau bersifat pasif tanpa berpikir kritis apa saja yang ada di dalam masyarakat. Radikalisme sebenarnya mengajarkan kita untuk berfikir kritis. Contoh gampangnya seperti ini jika kita bertemu dengan orang asing di terminal ataupun di tempat umum lainya dan kita ditawari makanan, jika kita berpikir radikal kita akan mempertanyakan kenapa orang ini memberi makanan dan apakah makanan ini membahayakan atau tidak jika di konsumsi. Dalam hal ini radikalbukan berarti membuat kita selalu berfikiran buruk terhadap orang lain, akan tetapi mengajarkan kita untuk berhati -hati dan tidak mudah percaya. Contoh lainya adalah banyak tokoh filsuf yang berfikir secara radikal dalah satunya adalah Pulo Freire yang digelari sebagai bapak pendidikan kritis. Sumbangan pemikiran Freire dalam dunia pendidikan sangat besar hal ini bisa kita lihat dalam karya besarnya berjudul “Pendidikan Kaum Tertindas” dalam buku ini Freire mengajarkan bahwa pendidikan itu sifatnya membebaskan. Freire bisa dikatakan masuk dalam tokoh pendidikan radikal, karena di merupakan tokoh pendidikan yang menentang sistem pendidikan gaya bank yang sudah mapan, dalam sistim pendidikan gaya bank secara garis besar murid dituntut pasif dan guru sebagai sumber dari pengetahuan, karena murid diibaratkan bejana kosong yang harus diisi. Untuk melawan sistem pendidikan gaya bank Freire menawarkan sistem pendidikan hadap masalah, dalam sistem ini kedua belah pihak baik itu pengajar maupun pelajar dituntut aktif dalam praktek belajar mengajar jadi sifatnya dua arah. Sistem pendidikan hadap masalah ini yang menginspirasi kurikulum kita saat ini yang sifatnya student center.

Jadi sebenarnya media dalam hal ini menurut saya sebagai penikmat media yang berhak menyampaikan pendapat, menganggap media sudah melakukan pembodohan dengan menggunakan kata kata radikal ini secara serampangan, yang dikhawatirkan digunakan oleh penikmatnya untuk melabeli orang ataupun kelompok tertentu secara ngawur dengan kata kata radikal ini. Pada akhir tulisan ini penulis ingin berpesan bagi diri sendiri dan bagi yang membaca tulisan ini mari menjadi penikmat media yang cerdas dan kritis tititk.

Dalam media ada kesenjangan antara fakta sebenarnya dan fakta semu

(Noam Chomsky)

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: