Skip to content

Review Buku “CHE Vive”

17 Mei 2015
tags: ,

Sumber: writingcourse.wordpress.com

 Judul Buku: CHE Vive

Penulis: T. W. Utomo

Penerbit: Selasar

Tahun Terbit: 2009

Tebal: 120 Halaman

Banyak buku biografi yang membahas kehidupan Che Ernesto Guevara, hampir semua buku tersebut membahas sosok Che yang garang memperjuangkan ideologinya. Corak dalam buku ini juga hampir sama dengan beberapa buku biografi yang membahas Che, tetapi perbedaanya dalam buku ini kita akan melihat sosok Che dari segi humanisnya. Memang dalam kata pengantar buku ini secara jelas penulisnya menyatakan bahwa buku ini lebih terfokus mengenai sosok Che sebagi sosok manusia biasa yang mencintai keluarga, perokok berat, kegemaran Che membaca dan beberapa bahasan mengenai Che per bab yang menggambarkan sosok humanis Che. Tulisan ini akan sedikit mengulas per bab tentang apa saja yang di bahas dalam buku ini.

Bab pertama buku ini di beri judul “Sedarah dengan Pemberontakan IRA dan Basque” . Dalam Bab ini membahas bahwa jiwa pemberontak Che tidak bisa lepas dari nenek moyang Che yang sejatinya menurut penulis bukunya adalah pemberontak. Pemberontak yang saya maksud di sini adalah jiwa Che yang tidak akan merasakan tenang jika ada ketidak adilan yang terjadi dalam masyarakat, Che Guevara bahkan secara tegas menyatakan: “jika engkau merasa marah dengan ketidak adilan yang terjadi, maka kau adalah saudaraku. Kembali pada masalah keturunan Che menurut sejarah yang dijabarkan dalam buku ini merupakan keturunan orang Irlandi. Terus apa hubunganya antara Irlandia dengan pemberontakan ? Pada saat itu Irlandia terkenal sangat gigih memberontak penjajahan yang dilakukan oleh Inggris, akan tetapi penafsiran tentang nenk moyang Che masih simpang siur dalam buku dijelaskan beberapa tokoh sejarah yangmeneliti asal usul nenek moyang che Guevara.

Pada BAB selanjutnya penulis buku ini member judul “Sang Pembebas Kaum Tertindas”. Dalam Bab ini penulisnya meskipun judul Bab nya jika dilihat dari judulnya mungkin kita akan membayangkan banyak kata kata seperti ideology, marxis, revolusioner dan beberapa kata ilmiah berat lainya. ternyata jika kita baca seperti yang sudah saya jelaskan di bagian awal penulisnyakurang menyinggung tentang ideology, marxis dan sebagainya. Bab ini lebih menekankan pada penjabara sosok Che yang tidak bisa dia melihat penindasan yang terjadi yang dilakukan rezim pemerintahan.

Bab ketiga membahas bagaimana keberanian Che mempertahankan apa yang dianggapnya benar, bahkan sampai mempertaruhkan nyawa. Contoh keberanian Che yang diambil dalam Bab ini adalah ketika Che ditangkap di Bolivia oelh tentara baret hijau didikan CIA. Penangkapan Che ini berujung pada dilaksanakanya eksekusi mati Che, karena sosok revolusioner ini dengan gerakan bawah tanahnya dianggap mengancam rezim pemerintahan. Keberanian Che dalam hal ini terlihat ketika akan dieksekusi mati Che yang pada saat itu sudah dalam keadaan babak belur, karena sebelumnya disiksa oleh tentara baret hijau dengan lantang berkata pada sang eksekutor “Tembaklah aku pengecut, kau hanya akan membunuh seorang manusia”.

Bab keempat dan Bab kelima diberi judul “Memotong Ketergantungan dengan Jalan Revolusi dan Musuh Revolusi adalah negara”. Saya menggabung kedua Bab ini, karena kedua inti bab ini hampir sama. Pandangan Che tentang mengapa bangsa dunia ketiga tidak bisa maju, hal ini dikarenakan penjajahanyang dilakukan bangsa lain. Penjajahan dilakukan dengan dua jalan yang pertama dengan jalan kekerasan saran yang di gunakan, bedil, meriam dan beberapa peralatan militer yang ditujukan untuk perluasan daerah. Penjajahan yang kedua dilakukan secara halus, bahkan saking halusnya bangsa yang terjaja tidak merasa dijajah. Salah satu bentuk jajahan halus ini adalah menciptkan ketergantung Negara berkembang terhadap Negara maju, ketergantungan ini biasanya diwujudkan dalam bentuk peminjaman sejumlah dana segar kepada Negara berkembang. Peminjaman dana ini bertujuan agar Negara maju bisa melakukan intervensi pada Negara berkembang, karena Negara berkembang ini merasa berhutang budi.

Negara Lain Telah Memanggil Saya Untuk Menyumbangkan Keringat”, itulah judul yang diberikan penulis buku ini. Bab ini melihat aktifitas revolusi Che tidak hanya dilakukan di Kuba saja, jiwa revolusioner ini terjawantahkan dari praxisnya yang dengan rela melepaskan jabatanya di Kuba pasca kemenangan pergerakan revolusi di Kuba yang di motori Che. Pelepasan jabatan Che, karena Che menganggap di tidak bisa tenang dengan jabatanya yang sudah mapan di Kuba, Che dengan rela melepas jabatanya dan menggelorakan api revolusi di kawasan Afrika dan Bolivia.

Pada Bab 7 dberi judul “Jangan biarkan keadilan terjadi di mana pun dan dialami oleh siapapu”. Dalam Bab ini isinya hampir sama dengan sebelumnya yaitu tentang pemikiran Che yang menentang penindasan yang terjadi. sedikit penambahan yang dalam Bab ini adalah mengenai cara Che mendidik anaknya. Menjadi pertanyaan memang bagaimana sosok Che yang sibuk menjalankan aksi revolusionernya sementara pada saat dia sudah memiliki keluarga dan anak yang membutuhkan didikanya. Penulis buku menjelaskan bahwa Che mendidik anak melalui surat, didikan che melalui surat ini diakibatkan keadaan Che yang saat itu berfokus pada pergerakanya dan tidak bisa berkumpul dengan keluarganya.

Sosok Che memang tidak bisa lepas dari yang namanya cerutu oleh sebab itu bab 8 ini diberi judul “Gagal Memerdekakan Diri Sendiri dari Asap Tembakau , contohnya kaos ataupun tas yang dijual dip asaran yang menyertakan gambar Che selalu ada cerutu yang dihisap. Che memang memiliki ketergantungan terhadap cerutu, bahkan dijelaskan dalam buku ini bahwa Che hanya Cerutu dan buku jika ada tamu yang mengunjunginya, selain kedua benda itu Che tidak mau terima. Perkenalan Che dengan tembakau berawal dari keberangkatan Che dari Argentina (tempat kelahiranya) menuju Kuba. Dalam perjalanya penyakit asma Che kambuh dan sesampainya di daratan Kuba penduduk sana menaganjurkan Che untuk menghisap daun yang bentuknya seperti tembakau aga asmanya bisa sedikit terobati. Dari sanalah Che mulai menikmati setiap hisapan tembakau yang menurut Che sebagai penyemangat dalam menjalankan aktifitas revolusinya.

Bab 9 dan 10 membahas mengani figure Che yang sudah dikomersilkan. Komersiliasi figure Che ini terlihat dari gambar wajah Che yang digunakan sebagai logo dari produk tertentu seperti rokok, minuman keras dan beberapa produk yang berhubungan dengan maskulinita. Gambar Che memang memiliki sihir tersendiri, seolah si pemakai kaos, tas ataupun apapun yang bergambar Che mendapat kebanggaan, ataupun bisa menjadi symbol maskulinitas tersendiri bagi si pemakainya.

Bab 11 yaitu Bab terakhir dalam buku ini, berisi kata kata Che yang bisa kita jadikan bahan perenungan sendiri.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: