Skip to content

Mitos

1 Juni 2015

Mitos merupakan kata yang melekat dalam masyarakat saat ini. Mitos diidentikan dengan hal yang sifatnya magis seperti mitos tentang pohon yang dihuni roh halus, mitos mengenai telaga angker, dan segala hal yang bersifat “klenik”. Mitos sebenarnya merupakan bagian dari permaiinan bahasa, begitulah menurut prespektif semiologi. Semiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Semiologi tersusun dari dua kata yaitu semion dan logos. Semion adalah tanda sementara logos adalah ilmu pengetahuan. Kajian semiologi pertama kali dicetuskan oleh Ferdinand de Saussure, salah satu cabang dari semilogi adalah ilmu linguistic yang menjadi salah focus kajian Saussure. Bahasa menurut Saussure tersusun dari penanda dan petanda. Penanda adalah fisik, rupa wujud dan ekspresi mental (Barthes, 2012: 42). Contoh penanda jika kita mengatakan mobil berarti berhubungan dengan wujud, dan citra mobil tersebut yaitu: memiliki empat roda, pintu dengan kacanya dan segala wujud fisik mobil tersebut. Petanda adalah substansi, konsep dari penanda (Barthes, 2012: 36). Contoh petanda dari mobil adalah sarana transportasi. Petanda memang sulit untuk diklasifikasikan dan setiap orang memiliki petanda masing masing dalam melihat fenomena. Perbedaan petanda ini bila penulis boleh simpulkan salah satunya berasal dari perbedaan pengetahuan yang dimiliki setiap orang dalam melihat penanda. Penggabungan antara penanda dan petanda yang biasa disebut penandaan melahirkan tanda.

Terbentuknya mitos dalam kajian semiologi tidak lepas dari proses penandaan. Pegertian mitos dalam kajian semiologi dicetuskan oleh Roland Barthes. Kajian mitos menurut Barthes terbentuk dari sistem penandaan yang dikembangkan lagi. Maksudnya dari tanda (penanda +petanda), dijadikan penanda baru. Contohnya mobil yang sudah terbentuk tandanya, kemudian tanda tersebut dijadikan penanda baru dan masuk dalam sistem semilogi “lapis kedua” (Barthes, 2013:161). Mobil jika sudah menjadi mitos yang tandanya adalah alat transportasi, memiliki dua pintu dan empat roda memiliki petanda baru yang siap kita isi secara semena misalnya petanda mobil dalam mitos misalanya prestise.

Cara pembacaan mitos dan penguraian mitos juga dijabarkan oleh Barthes, tujuanya adalah agar teori tentang mitos ini bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari dalam membaca foto, majalah, Koran dan beberapa media yang kita nikmati sehari hari. Menurut Barthes (2013: 184) ada tiga cara dalam membaca dan menguraikan mitos, yaitu:

  • Membaca mitos dari penanda yang kosong atau dari penanda yang sudah bergabung menjadi tanda pada sistem semiologi “lapis pertama”. Contohnya mobil, jika kita memfokuskan pada pembacaan penanda kosong maka yang kita lihat hanya wujud dari mobilnya saja. Pembacaan ini hanya membuat kita justru menerima mitos yang disodorkan.
  • Membaca mitos dari penanda penuh atau petanda pada sistem semiologi “lapis pertama”. Contohnya mobil, jika memfokuskan pada pembacaan penanda penuh maka kita bisa melihat ada perbedaan petanda pada lapis pertama dengan petanda pada lapis kedua atau mitos. Perbuahan petanda ini berupa pereduksian petanda mobil awal sebagai sarana transportasi menjadi saran untuk meningkatkan status social. Dengan memfokuskan pada pembacaan ini kita bisa menjadi lebih kritis dalam melihat fenomena, akan tetapi pembacaan ini memiliki kekurangan yaitu pembacaan yang berfokus kepada penanda penuh dan mengabaikan penanda kosong mengurangi kekayaan analisis mitos yang akan dicapai, karena petanda tidak akan pernah tewujud jika tanpa penanda dan penanda selalu berada didepan petanda.
  • Pembacaan mitos yang terakhir yang bisa dikatakan menjadi bentuk pembacaan mitos yang ideal menurut Barthes adalah pembacaan yang berfokus pada penanda penuh dan kosong.

Dengan memahami mitos diharapkan kita bisa lebih kritis dalam menikmati media yang kita nikmati sehari hari dan lebih jauh kita bisa membongkar setiap ideoloogi yang terkandung di dalamnya.

Penjabaran mitos dalam tulisan ini sangat jauh dari kata lengkap, karena keterbatasan pengetahuan dan keterbatasan literature yang dimiliki penulis. Untuk mencari pemahaman lebih mendalam tentang mitos, penulis menyarankan untuk membaca karya karya Roland Barthes diantaranya elemen elemen semiologi dan mitologi.

 

Daftar Pustaka

Barthes, Roland. 2012. Elemen Elemen Semiologi. Yogyakarta: Jalasutra.

Barthes, Roland. 2013. Mitologi. Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: