Skip to content

Tokoh – Tokoh Filsafat Prancis (1)

7 Juni 2015

Tulisan ini membahas tokoh-tokoh filsuf Perancis, penulis membubuhkan angka satu pada judulnya, karena tidak semua tokoh filsafat Perancis yang dibahas disini dan kelak jika penulis sempat akan penulis lanjutkan tulisan ini dengan judul yang sama dan penulis tambahkan angka selanjutnya. Tulisan ini bersumber dari buku yang penulis baca yang berjudul “Filsafat Barat Abad XX (Jilid II Prancis)”, karya K. Bertens.

Henry Bergson, filsuf Prancis yang sempat menempuh pendidikan di ecole normale superieur. Inti pemikiran Bergson adalah menolak pandangan determinisme. Determinisme adalah pendangan yang menganggap manusia ditentukan oleh factor factor tertentu. Henry bergson merupakan salah satu murid dari emile Durkheim. Pemikiran lainya adalah henry bergson menganggap manusia terdiri atas dua bagian yaitu roh dan tubuh, kedua hal ini tidak bisa disatukan akan tetapi merupakan dua hal yang saling timbale balik.

Maurice Blondel, filsuf yang menempuh pendidikan di ecole normale superiuer dan merupakan salah satu filsuf yang memadukan antara filsafat dengan agama. Menurut filsuf ini filsafat tidak bisa dipisahkan dari agama, karena filsafat yang bersumber dari rasio juga berasal dari agama. Pandangan Blodel yang mencampurkan antara filsafat dengan agama ini mendapat banyak kritik, baik itu dari kalangan filsuf maupun dari kalangan agamawan. Blondel sangat terkesan dengan agama Kristen, bahkan filsafatnya dianggap sangat membantu bagi kaum apologetic.[1]

Piere Teilhard de Chardin, filsuf yang juga tergabung dengan ordo Jesuit. Tokoh ini sebenarnya bukanlah filsuf melainkan tokoh yang ahli pada bidang paleontology (ilmu pengetahuan tentang fosil) dan geologi (ilmu pengetahuan tentang kerak bumi). Meskipun bukan seorang filsuf tokoh ini sangat prihatin dengan ilmu pengetahua modern yang seolah olah menyingkirkan agama dari kaiianya. Berangkat dari hal ini tokoh ini dianggap sebagai salah satu filsuf perancis yang cukup berpengaruh. Menurut Teilhard filsafat dan agama tidak bisa dipisahkan, ibarat dua sisi koin. Teilhard mengambil contoh pandangan kaum evolusionis (darwinis) yang menganggap bahwa manusia berasal dari kera yang berproses menjadi manusia seperti saat ini melalui proses evolusi, tanpa campur tangan tuhan. Menurut Teilhard pandangan ini salah, karena dalam proses evolusi tuhan ikut campur didalamnya khsususnya mengenai waktu yang terjadi dalam proses evolusi.

Neothomisme. Aliran filsafat yang didopsi dari pemikiran santo Thomas Aquinas. Thomas Aquinas adalah filsuf abad pertengahan, oemikiran Aquinas diilhami perpaduan teologi dan ajaran aristoteles. Bahkan banyak yang menganggap Aquinas adalah orang yang mengkristenkan aristoteles.

Gabriel Marcel, filsuf kelahiran paris ini terkenal dengan corak filsafatnya yang hampir mirip dengan aliran eksistensial. Aliran filsafat eksistensial adalah aliran yang filsafat yang berfokus bagaimana yanga individu meng-Ada. Pemikian penting Gabriel Marcel adalah aku dan memiliki. Marcel juga menolak pemikiran filsafat positivistic yang sangat mengutamakan objektifitas, dari sinilah pemikiran tentang “aku” bermula. Menurut marcel aku yang otentik harus benar benar terlepas dari objektivitas, karena objektivitas telah mereduksi setiap individu yang memiliki kompleksitas dan keunikanya masing masing. Sedangkan miliki menurut marcel adalah menguasai dan menggunakan apa yang dimiliki. Dengan begitu apa yang dimiliki aku harus selalu merupakan sebuah benda, karena dia dikuasai. Marcel juga membicarakan masalah cinta. Menurutnya cinta bukanlah memiliki (kembali phada konsep milika), karena cinta tersebut berhubungan dengan individu. Cinta yang sejati adalah antara aku dan engkau yang disatukan menjadi kita. Sedangkan cinta yang didasarkan atas milik (benda) ialah antara aku dan ia. Engkau menurut Marcel hubungan timbal balik antara individu, sedangkan ia menurut marcel lebih kearah fungsional yang lebih pas ditujukan bukan untuk hubungan cinta antar individu.

Marcel juga terkenal sebagai penulis drama, hal ini karena ayah marcel yang cinta terhadap seni drama dan sejak kecil marcel sering mengikuti ayahnya untuk menonton drama. Menurut marcel drama dan filsafat bukan hal yang berbeda, kedua hal tersebut memiliki kesamaan yaitu berusaha memahami kehidupan manusia.

Jean Paul Sartre, selain terkenal sebagai seorang filsuf Sartre juga dikenla sebagai sastrawan. Keahlianya sebagai sastrawan terlihat padatahun 60an dia mendapatkan nobel kesustraaan, akan tetapi ditolak oleh Sartre dengan alasan bahwa jika dia menerima nobel maka kebebasanya sebagai seorang penulis akan dibatasi dan hadiah nobel merupakan tradisi dari kaum borjuis. Sartre memang terkenal menolak segala tradisi yang berrkaitan dengan borjuis, oleh sebab itu Sartre juga disebut sebagai salah satu filsuf yang berhaluan “kiri”. Sartre terkenal sebagai pemimpin filsafat eksistensialisme. Ciri utama dari filsafat eksistensialisme Sartre adalah antropomorfisme dan ateisme.

Corak antropomorfisme eksistensial Sartre adalah penekanya pada kebebasan manusia. Salah satuungkapan Sartre yang cukup terkenal dan menjadi salah satu fundamen dari filsafatnya adalah “manusia dikutuk untuk bebas”. Kebebasan menurut Sartre bukan hal yang patut di banggakan karena dengan kebebasan manusia dituntut untuk mempertanggung jawabkan kebebasanya baik pada dirinya sendiri maupun pada orang lain, begitulah pandangan Sartre tentang kebebasan manusia yang dituliskna dalam bukunya yang berjudul “eksistensialisme adalah humanism”. Corak antropomorfisme lainya Filsafat eksisitensialisme satre juga mempertanyakan bagaimana cara manusia meng-ada. Ada menurut Sartre terkait dengan kesadaran manusia dalam karya magnukm opusnya yang berjudul “ada dan ketiadaan”, sarte membagi kesadaran menjadi dua yaitu: (1) ada pada dirinya (etre en soi) (2) ada bagi dirinya (etre en soi).

Secara singkat ada pada dirinya adalah bentuk kesadaran yang sifatnya selalu ditindak, pasif dan tanpa celah. Jika penulis boleh simpulkan ada bagi dirinya identik dengan benda contohnya kursi, kursu merupakan etre en soi, karena selalu di tindak (di duduki), pasif (kursi tidak akan bergerak jika tidak ada daya dari luar kursi yang menggerakan), tanpa celah (fungsi kursi tidak akan berubah dan kursi akan menjalankan fungsinya).

Berbeda dengan ada bagi dirinya (etre en soi), ada bagi dirinya (etre pour soi) justru identik dengan mahluk yang memiliki kesadaran yaitu manusia. Etre pour soi memiliki ciri ciri selalu menindak, aktif, selalu ada celah. Manusia bagian dari etre pour soi, karena manusia selalu menindak (menduduki kursi), aktif (subjek yang menciptakan kursi), selalu ada celah (manusia adalah mahluk yang dinamis artinya manusia selalu berubah tergantung nilai dan norma apa yang diserapnya, setiap nilai dan norma manusia selalu ada celah. Dan manusia bukan mesin yang bisa selalu bertindak mekanistis, oleh sebab itu selalu ada celah). Meskipun manusia adalah etre pour soi, akan tetapi manusia juga selalu berusaha menjadi etre en soi. Artinya manusia ingin menjadi sosok yang tidak punya celah meskipun realitasnya manusia tidak akan bisa menjadi tanpa celah atau dalam bahasa Sartre manusia ingin menjadi sosok yang absolute (tuhan). Hasrat manusia yang ingin menjadi etre en soi meskipun diketahui bahwa itu tidak akan pernah bisa membuat manusia menjadi bagian dari hasrat yang sia sia menurut Sartre.

Sarte juga dikenal dengan pandangnya yang menolak eksistensi tuhan bahkan dalam beberapa buku disebut bahwa Sartre adalah sosok ateisme paling radikal abad 20. Penolakan Sartre terhadap eksistensi tuhan terkait dengan kebebasan manusia. Menurut Sartre dengan adanya tuhan manusia tidak bisa memiliki kebebasan yang otentik. Dengan tidak adanya tuhan yang menjadi sumber nilai dan norma manusia, maka manusia wajib menciptakan nilai dan normanya sendiri, oleh sebab itu menurut Sartre “manusia dikutuk untuk bebas”.

NB: Tulisan ini bukan bermaksud menjelaskan secara menyeluruh mengenai tokoh tokoh filsafat Prancis yang pemikiranya sangat kaya, karena keterbatasan penulis entah itu dari literatur ataupun pengetahuan. Untuk pemahaman lebih lanjut silahkan membaca buku buku yang terkait dengan filsafat Perancis, salah satunya buku yang di tulis oleh K. Bertens yang sudah penulis sebutkan di awal tulisan

Catatan Kaki

[1] Cabang teologi Kristen yang membela dogma agama krissten,ketika berhadapan dengan rasio. Sekarang apologetika disebut sebagai teologi fundamentalisme.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: