Skip to content

Pendidikan Untuk Kerja (?)

6 Oktober 2015

20150902_150907Tulisan ini terisnpirasi dari berbagai iklan-iklan yang mengusung pendidikan sebagai tema. Tidak bisa dipungkiri dalam masyarakat kita saat ini adalah masyarakat tontonan. Masyarakat tontona merupakan istilah yang diberikan Guy Debord untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita saat ini yang terpaku pada tontonan kita yaitu TV yang menjadi rujukan utama kita dalam menjalani hidup. Dalam TV khususnya iklan yang ditayangkan, kita bisa melihat mulai dari produk pasta gigi, pembersih piring, sampai lembaga Pendidikan yang menjajikan berbagai keuntungan untuk mengkosnsumsi produk tersebut. salah satu keuntungan yang bisa diperoleh khususnya dalam iklan-iklan lembaga pendidikan adalah kesuksesan Kemudian yang menjadi pertanyaan tentang iklan pendidikan yang menjanjikan kesuksesan tersebut adalah “kesuksesan yang seperti apa yang diajnjikan?” hampir semua iklan pendidikan tersebut mulai dari iklan lembaga bimbingan belajar, sekolah sampai universitas menjajikan kesuksesan dalam hal peluang kerja dan kesuksesan dalam lingkungan pekerjaan. Salah satu iklan yang ditayangkan dalam TV bahkan menggambarkan secara jelas mengenai perbedaan individu yang sudah mengenyam pendidikan di SMK yang diiklankan menjadi individu yang cakap bekerja dan individu yang tidak bersekolah di SMK yang diiklankan tersebut mendapat teguran disebabkan kinerjanya buruk, karena tidak bersekolah di SMK tersebut. Kemudia yang menjadi pertanyaan “apakah memang sekolah itu memang ditujukan hanya untuk satu tujuan yaitu bekerja?”

Memang pertanyaan penulis sangat hipokrit. Mungkin banyak yang menjawab memang sekolah kan tujuanya mempersiapkan kita untuk bekerja, hal ini dipertegas dengan slogan pada hari kemerdekaan ke 70 negara kita slogan itu berbunyi “Ayo Kerja”. Pendidikan sejatinya menurut salah satu tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara yaitu untuk menyeimbangkan kemampuan fisik dan mental kita. Dengan metode amongnya Ki Hajar Dewantara menjelaskan pendidikan bertujuan untuk mencetak individu yang memiliki moral dan sehat secara jasmani. Moral tersebut didapatkan sang murid dari guru yang mengajarkan nilai-nilai kebaikan yang salah satunya diajarkan semua agama. Sehat secara jasmani didapatkan dari pelajaran olah-raga yang diajarkan kepada murid. Menurut Paulo Freire tokoh pendidikan kritis, pendidikan itu harus membebaskan, artinya pendidikan harus menciptakan individu untuk memahami dunia dan membentuk kesadaran kritis.

Jika pendidikan yang diiklankan oleh TV hanya menekankan untuk mencetak individu agar bisa memasuki dunia kerja, apakah sekolah dan lembaga pendidikan lainya yang merupakan salah satu sarana mendapatkan pendidikan, tidak lebih hanya menjadi pabrik? Sekolah mencetak individu dengan kesadaran seragam bahwa kita bersekolah hanya untuk bekerja dan sekolah hanya menjadi pencetak tenaga kerja murah. Jika pendidikan yang diajarkan sekolah dan lembaga pendidikan lainya hanya berorientasi untuk mencetak tenaga kerja maka “apakah filosofi pendidikan yang dijelaskan oleh Ki Hajar Dewanatara sudah tidak berlaku lagi ?”

Orientasi pendidikan yang hanya berfokus pada pencetakan individu yang siap untuk bekerja, hanya menyebabkan tersingkinrnya nilai-nilai luhur mengenai moralitas yang diajarkan dalam pendidikan. Sopan santun terhadap sesama mulai luntur, persaingan yang membentuk individualitas semakin subur, saling sikut untuk mendapat pekerjaan banyak terjadi, bahkan pragmatisme dalam pendidikan pun tidak dapat dihindari. Pragmatisme dalam pendidikan sudah mulai terlihat dengan kasus yang sempat menggemparkan Negara kita yaitu tentang pembelian ijazah palsu yang dilakukan oleh beberapa oknum. Pendidikan dari kasus tersebut terlihat hanya digunakan sebagai gelar yang tersemat di awal ataupun akhir nama yang dijadikan untuk meraih jabatan yang diinginkan. Ironi memang jika melihat kasus tersebut. Banyak pihak yang menyalahkan oknum yang melakukan pembelian ijazah palsu dan gelar tersebut, Tetapi menurut penulis sendiri kita tidak bisa menyalahkan satu pihak saja, salah satu pemicu terjadinya pragmatism dalam dunia pendidikan adalah dengan adanya iklan-iklan pendidikan yang hanya menjajikan pekerjaan dan hanya berperan sebagai pencetak tenaga kerja. Hal ini secara otomatis turut mereduksi esensi dari pendidikan tersebut. Jadi penulis menghimbau kepada pembaca dan penulis sendiri mari kita lebih kritis dengan iklan yang ditampilkan di TV dan jangan lupakan inti dari pendidikan yang sejatinya bertujuan untuk mencetak individu yang tangguh secara fisik dan baik secara moral.

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: