Skip to content

Robert K. Merton, Revisi dan Kritik Teori Struktural Fungsional

2 Februari 2017

Dalam kajian sosiologi terdapat beberapa paradigma teori. Menurut George Ritzer dalam Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, sosiologi memiliki tiga paradigma utama (meskipun pada perkembanganya Ritzer insyaf, karena tidak memasukan postmodern):

  1. Paradigma Fakta Sosial: Tokoh sosiologi yang bernaung dalam paradigma ini percaya bahwa dalam kajian sosiologi yang perlu mendapat perhatian adalah struktur dan masyarakat. jadi, dalam paradigma ini sosiologi harus bisa memberi penjelasan atas fenomena yang terjadi dalam masyarakat dengan menggunakan sudut pandang makro. Salah satu Sosiolog yang bernaung dalam paradigma ini dan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah Robert K. Merton.
  2. Paradigma Definisi Sosial: Berbeda dengan paradigma fakta sosial, tokoh yang dianggap bagian dari paradigma definisi sosial meyakini bahwa untuk mengkaji masyarakat, sosiologi harus berangkat dari individu. Para Sosiolog dalam paradigma ini menganggap bahwa struktur dalam masyarakat bisa terbentuk karena adanya interaksi antar individu. Sosiolog yang bernaung dalam paradigma ini salah satunya Herbert Mead.
  3. Paradigma Perilaku Sosial: Paradigma perilaku sosial lahir dari perpaduan antara kajian sosiologi dengan psikologi-behavioristik. Menurut penganut paradigma ini, dalam mengkaji masyarakat, khususnya ilmu sosial, para peneliti harus melihat perilaku individu yang tidak lepas dari proses timbal balik stimulus-respon. Tokoh yang terkenal dalam paradigma ini adalah B. F. Skinner.

Salah satu tokoh sosiologi yang menyatakan bahwa masyarakat diandaikan sebagai satu kesatuan tubuh atau organisme adalah Robert K. Merton (selanjutnya disingkat Merton). Tokoh ini mendapat pengaruh yang besar dari Tacott Parson, pelopor pemikiran fungsionalisme. Meskipun mendapat pengaruh besar dari gurunya tersebut, Merton tidak menerima sepenuhnya pemikiran dari gurunya itu. Ada beberapa kritik dan perbedaan antara pemikiran antara Merton dengan tokoh fungsionalis pada umumnya, dan Parsons khususnya.

Meskipun secara garis besar ada kesamaan antara Merton dengan pemikiran fungsionalis lainya, yang menghendaki sosiologi agar ‘bersolek’ seperti ilmu alam, tapi Merton masih menyadari akan sifat dinamis dari sifat masyarakat. Kesadaran Merton tentang perubahan sosial membuat dia merumuskan tentang disintegritas yang tidak disadari atau justru dihindari pemikir fungsionalis lainya. Disinilah letak keunikan pemikiran Merton. Dengan adanya potensi disintegritas atau perpecahan dalam masyarakat, Merton menawarkan solusi berupa alternatif fungsional (M. Poloma, 2013: 46). Ketika terjadi dinamika dalam masyarakat yang diejawantahkan dalam bentuk konflik dan integrasi, maka untuk menjaga equilibrium (harapan semua pemikir fungsionalis), maka penyebab terjadinya dinamika tersebut harus mendapatkan alternatifnya. Contohnya ketika sistem pendidikan yang diadakan oleh pemerintah, salah satu wujud struktur dalam masyarakat, mengalami krisis karena kendala dana atau keterbatasan APBD/APBN, maka salah satu alternatifnya adalah pendidikan yang diselenggarakan pihak swasta yang didanai oleh yayasan.

Selain merumuskan tentang alternatif fungsional, sebagai penyempurnaan dari teori fungsionalis, Merton juga merumuskan tentang fungsi manifes (diharapkan dan direncanakan)  dan fungsi laten (tidak diduga dan tidak direncanakan). Perumusan ini berawal ketika Merton merasa prihatin dengan kajian-kajian sosiologi yang hanya berorientasi pada pemenuhan fungsi manifes, dan melupakan fungsi laten. “Kajian yang hanya melihat fungsi manifes dan tidak menghiraukan fungsi laten, maka akan menjadi kajian yang berbahaya,” ujar Merton. Kajian sosiologi yang hanya bertumpu pada fungsi manifes, justru akan membuat kajian itu tidak bersifat obyektif dan kurang berbobot. Contohnya, dalam penelitian yang membahas tentang perilaku konsumtif dalam pembelian mobil. Jika penelitian itu hanya untuk memenuhi fungsi manifes, maka dari hasil temuan data yang sudah didapat, dari segi fungsi manifes tujuan orang membeli mobil, ya, hanya untuk sarana transportasi. Dari hasil itu, terlihat kesimpulan yang diambil terasa kurang berbobot. Berbeda hasilnya, ketika penelitian itu juga mencari fungsi laten, maka hasilnya selain untuk kebutuhan mobilitas, ternyata pembelian mobil juga bertujuan sebagai ajang unjuk status sosial dan pamer kekayaan.

Tidak ada gading yang tidak retak, begitulah pribahasa yang tepat bagi pemikiran Merton. Merton Menghendaki agar pemikiranya bisa menjadi jawaban dan mengatasi polemik yang terjadi dalam kajian sosiologi, tapi nyatanya ada beberapa kekurangan dalam pemikiran Merton. Salah satu tokoh sosiologi yang menyadari kekurangan dari teori Merton adalah Ralf Dahrendorf. Menurut Dahrendorf, meskipun Merton menyadari tentang potensi perubahan dalam masyarakat tapi Merton lupa atau bahkan tidak menghendaki adanya konflik dalam masyarakat (M. Poloma, 2013: 50). Tuntutan Merton mengenai keseimbangan yang menjadi keniscayaan dalam masyarakat, membuat pemikiran Merton tertutup dengan adanya potensi konflik dalam masyarakat. Selain itu, pemikiran Merton juga sering dituduh oleh para pengkritiknya sebagai pemikiran yang mendukung status quo, karena mengandaikan kondisi masyarakat yang tertib.

Sumber foto: https://www.pinterest.com

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: