Skip to content

Mazhab Frankfurt dan Revisi Pemikiran Karl Marx (Ulasan Buku “Herbert Marcuse”)

7 Maret 2017

(Pernah dimuta di http://www.qureta.com, 9 September 2016)

Mencari literatur yang secara khusus membahas pemikiran tokoh mazhab Frankfurt cukup susah ditemukan, menurut pengalaman pribadi penulis. Banyak literatur yang membahas marxis, hanya meletakan mazhab Frankfurt di sub-bab tertentu saja. Untuk itu buku karya Valentinus Saeng ini bisa menjadi salah satu oase tersendiri.

Buku yang diberi anak judul “Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global” cukup menggoda untuk dibaca. Meskipun buku ini di beri judul “Herbert Marcuse”, tapi buku ini tidak hanya membahas latar belakang kehidupan Marcuse, Mazhab Frankfurt sebagai lembaga yang menaungi Marcuse juga dibahas secara lengkap dalam buku ini.

Buku ini diawali dengan pembahasan sejarah berdirinya mazhab Frankfurt dan penjelasan apa itu mazhab Frankfurt. Berdirinya mazhab Frankfurt tidak lepas dari konteks perang dunia dan kekalahan partai komunis oleh partai Nazi di Jerman pada tahun 1930-an (Hal. 4).

Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi kaum komunis. Cita-cita yang diimpikan Marx mengenai masyarakat komunis, kandas dengan kalahnya partai komunis. Dari peristiwa inilah konteks sejarah kelahiran mazhab Frankfurt saling berkaitan.

Kekhawatiran dari berbagai kalangan masyarakat yang mendukung komunisme mulai mencuat, karena dengan menangnya partai Nazi menjadi indikasi awal lahirnya rezim totaliter yang serba mengekang. Kekhawatiran ini juga ditanggapi secara serius oleh kalangan intelektual ‘kiri’, yang terlibat langsung dalam politik praktis (simpatisan partai komunis Jerman dan partai sosial-demokrat) dan intelektual yang fokus dalam ranah pendidikan (Mazhab Frankfurt).

Dari kekalahan partai komunis pada tahun 1930 yang ditengarai dari simpatisan partai yang tidak memahami kajian marxisme dan perilaku korup simpatisan partai , lahirlah mazhab Frankfurt (Hal. 23). Mazhab Frankfurt ingin melakukan analisis ulang mengenai pemikiran Marx dan memadukanya dengan kajian lain (multidisipliner).

Psikoanalisis Sigumnd Freud, Dialektika Hegel, dan  Penalaran murni Immanuel Kant, menjadi beberapa kajian yang dielaborasikan dengan pemikiran Marx. Tujuanya agar pemikiran Marx bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman.

Para tokoh mazhab Frankfurt juga bersal dari latar pendidikan yang beragam, sehingga bisa lebih memperkaya kajian yang dikembangkan mazhab Frankfurt. Marx Hokheimer selaku direktur utama mazhab Frankfurt berlatar pendidikan ekonomi, Theodore Ardono berasal dari pendidikan musik dan Herbert Marcuse berasal dari pendidikan filsafat.

Selain mengembangkan pemikiran Marx, mazhab Frankfurt juga melakukan kritik terhadap pemikiran Marx, tujuanya agar pemikiran Marx tidak menjadi dogma yang antikritik dan menjadi teori ‘beku’ yang tidak bisa melihat perkembangan masyarakat. Luputnya teori Marx dalam melihat perkembangan sistem kapitalisme yang semakin canggih, menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk terus mengkaji dan mengembangkan pemikiran Marx.

Kaum kapitalis yang menurut Marx merupakan kaum penindas kaum buruh, saat ini telah berubah wajah. Buruh yang dulu identik dengan kaum yang selalu diperas tenaganya dengan upah yang sangat minim, sekarang justru sudah dimanjakan oleh kaum kapitalis (meskipun tidak semuanya). Tingkat kesejahteraan masyarakat memang lebih baik, mulai dari peningkatan upah sampai acara wisata bersama menjadi wujud dari kapitalisme saat ini.

Dengan peningkatan kesejahteraan dan segala bujuk rayunya benarkah nasib kelas proletar sudah lebih baik? Pada bagian akhir, buku ini mencoba untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekaligus menunjukan relevansi pemikiran tokoh-tokoh mazhab Frankfurt dengan kondisi masyarakat kapitalisme saat ini. Kapitalisme canggih sudah menggunakan topeng humanis.

Para tokoh mazhab Frankfurt meragukan tendeng aling-aling humanis tersebut. Dengan menggunakan kajian psikoanalisis Freud, ternyata kelas proletar tetap tertindas bahkan lebih buruk lagi, menurut tokoh-tokoh mazhab Frankfurt.

Kaum kapitalis sadar betul tentang penggunaan sarana kekerasan sudah tidak bisa digunakan lagi di era saat ini. Untuk menundukan kelas tertindas cukup dengan meninabobokan dengan berbagai intrumen yang dimiliki kaum kapitalis. Salah satu intrumen yang digunakan yaitu media.

Dalam era yang serba canggih saat ini, media menjadi sarana ampuh untuk menumbuhkan budaya konsumerisme kaum buruh dan ‘meninabobokan’ nalar kritis kaum buruh.

Melalui media yang berisikan iklan yang membujuk untuk membeli suatu produk, dengan mekanisme yang terus diulang-ulang, sampai produk tersebut memang dianggap sebagai kebutuhan penting dan bisa disejajarkan dengan kebutuhan sandang-pangan-papan. Lihat saja deretan iklan produk gadget terbaru di media.

Dengan menggunakan Aktor dan Aktris terkenal, para produsen gadget tersebut seolah menggiring pikiran publik bahwa memiliki gadget terbaru merupakan kewajiban jika mau diakui sebagai bagian dari komunitas tertentu. Penggiringan pemikiran ini menyebabkan hilangnya nalar kritis dan ke-otentikan masing-masing individu. Semua harus sama dan seragam, yaitu harus memiliki gadget baru. inilah yang dinamakan Marcuse manusia satu dimensi.

Ciri utama manusia satu dimensi adalah hilangnya dialektika. Kalau penulis boleh sederhanakan maksutnya adalah individu yang sudah hilang nalar kritisnya dan serba nurut, apa yang didekte padanya pasti akan dilaksanakan. Buruh bekerja – mendapat upah- membelanjakan kebutuhan yang tidak perlu- upah habis- bekerja lagi untuk mencari upah. Begitu seterusnya.

Secara keseluruhan buku ini bisa menjadi pedoman bagi mereka yang tertarik dengan pemikiran mazhab Frankfurt dan khsusnya bagi kawan-kawan aktivis. Dari segi sampul, meskipun terlihat cukup sederhana dengan menggunakan warna hitam-putih-biru dan memajang wajah Marcuse, tapi buku ini cukup menggoda, karena anak judul yang disematkan cukup provokatif dengan mencantumkan kalimat “Perang Semesta Melawan Kapitalisme.”

Dari segi penyampaian, bahasa yang digunakan buku ini cukup mudah dipahami bagi pembaca yang sudah memahami kajian marxisme sebelumnya, meskipun di bagian belakang buku ini dicantumkan kata-kata yang cukup menciutkan nyali untuk membaca buku ini, “Buku berat! Dicetak terbas, hanya untuk (calon) intelektual, aktivis pergerakan, dan pejuang humanis yang serius dan berdedikasi tinggi serta berkesadaran kritis!”.

Judul Buku: Herbert Marcuse (Perang Semesta Melawan Kapitalisme Global)
Penulis: Valentinus Saeng
Penerbit: Gramedia
Tahun Terbit: 2012
ISBN: 978-979-22-8588-8

Iklan
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: