Skip to content

Pendidikan Untuk Kerja (?)

6 Oktober 2015

20150902_150907Tulisan ini terisnpirasi dari berbagai iklan-iklan yang mengusung pendidikan sebagai tema. Tidak bisa dipungkiri dalam masyarakat kita saat ini adalah masyarakat tontonan. Masyarakat tontona merupakan istilah yang diberikan Guy Debord untuk menggambarkan kondisi masyarakat kita saat ini yang terpaku pada tontonan kita yaitu TV yang menjadi rujukan utama kita dalam menjalani hidup. Dalam TV khususnya iklan yang ditayangkan, kita bisa melihat mulai dari produk pasta gigi, pembersih piring, sampai lembaga Pendidikan yang menjajikan berbagai keuntungan untuk mengkosnsumsi produk tersebut. salah satu keuntungan yang bisa diperoleh khususnya dalam iklan-iklan lembaga pendidikan adalah kesuksesan Kemudian yang menjadi pertanyaan tentang iklan pendidikan yang menjanjikan kesuksesan tersebut adalah “kesuksesan yang seperti apa yang diajnjikan?” hampir semua iklan pendidikan tersebut mulai dari iklan lembaga bimbingan belajar, sekolah sampai universitas menjajikan kesuksesan dalam hal peluang kerja dan kesuksesan dalam lingkungan pekerjaan. Salah satu iklan yang ditayangkan dalam TV bahkan menggambarkan secara jelas mengenai perbedaan individu yang sudah mengenyam pendidikan di SMK yang diiklankan menjadi individu yang cakap bekerja dan individu yang tidak bersekolah di SMK yang diiklankan tersebut mendapat teguran disebabkan kinerjanya buruk, karena tidak bersekolah di SMK tersebut. Kemudia yang menjadi pertanyaan “apakah memang sekolah itu memang ditujukan hanya untuk satu tujuan yaitu bekerja?” Baca selanjutnya…

Iklan

Sekilas Tentang Dekonstruksi

20 Agustus 2015

Dekonstruksi merupakan inti dari filsafat yang diajarkan oleh Derrida. Filsafat dekonstrusksi menuntut kita untuk menghargai yang namanya perbedaan, begitulah kalau penulis boleh menggampangkanya. Memang dalam setiap bahasa yang disampaikan oleh banyak tokoh filsafat termasuk Derrida susah untuk dicerna jika kita langsung membaca karyanya langsung tanpa membaca karya saduran seperti karya Al Faydl yang berjudul “Derrida” dan tidak melakukan diskusi dengan teman sebaya atau orang yang lebih memahami tentang filsafat dekontruksi Derrida. Baca selanjutnya…

Tokoh – Tokoh Filsafat Prancis (1)

7 Juni 2015

Tulisan ini membahas tokoh-tokoh filsuf Perancis, penulis membubuhkan angka satu pada judulnya, karena tidak semua tokoh filsafat Perancis yang dibahas disini dan kelak jika penulis sempat akan penulis lanjutkan tulisan ini dengan judul yang sama dan penulis tambahkan angka selanjutnya. Tulisan ini bersumber dari buku yang penulis baca yang berjudul “Filsafat Barat Abad XX (Jilid II Prancis)”, karya K. Bertens. Baca selanjutnya…

Mitos

1 Juni 2015

Mitos merupakan kata yang melekat dalam masyarakat saat ini. Mitos diidentikan dengan hal yang sifatnya magis seperti mitos tentang pohon yang dihuni roh halus, mitos mengenai telaga angker, dan segala hal yang bersifat “klenik”. Mitos sebenarnya merupakan bagian dari permaiinan bahasa, begitulah menurut prespektif semiologi. Semiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tanda. Semiologi tersusun dari dua kata yaitu semion dan logos. Semion adalah tanda sementara logos adalah ilmu pengetahuan. Kajian semiologi pertama kali dicetuskan oleh Ferdinand de Saussure, salah satu cabang dari semilogi adalah ilmu linguistic yang menjadi salah focus kajian Saussure. Bahasa menurut Saussure tersusun dari penanda dan petanda. Penanda adalah fisik, rupa wujud dan ekspresi mental (Barthes, 2012: 42). Contoh penanda jika kita mengatakan mobil berarti berhubungan dengan wujud, dan citra mobil tersebut yaitu: memiliki empat roda, pintu dengan kacanya dan segala wujud fisik mobil tersebut. Petanda adalah substansi, konsep dari penanda (Barthes, 2012: 36). Contoh petanda dari mobil adalah sarana transportasi. Petanda memang sulit untuk diklasifikasikan dan setiap orang memiliki petanda masing masing dalam melihat fenomena. Perbedaan petanda ini bila penulis boleh simpulkan salah satunya berasal dari perbedaan pengetahuan yang dimiliki setiap orang dalam melihat penanda. Penggabungan antara penanda dan petanda yang biasa disebut penandaan melahirkan tanda. Baca selanjutnya…

Pendidikan Untuk Masyarakat, Dari Masyarakat, Oleh Masyarakat

23 Mei 2015

Penulis: Toto Suharto

Penerbit: LKIS

Kota Penerbit: Yogyakarta

Tahun Terbit: 2012

Tebal: 170 Halaman

Pendidikan itu apa. Menurut Paulo Freire tokoh yang didapuk sebagai bapak pendidikan kritis, pendidikan adalah upaya untuk memanusiakan manusia. Begitulah salah satu pemikiran Paulo Freire yang diangkat dalam buku ini, selain juga tokoh tokoh pendidikan lainya yang diangkat dalam buku ini. Buku ini disusun dari penelitian yang dilakukan penulisnya yaitu Toto Suharto, yang membedah UU sisdiknas tahun 2003 pasal 55. Pasal ini sesuai dengan judul buku ini yaitu pendidikan berbasis masyarakat. Dalam pasal ini berisikan pendidikan yang bisa di kelolah sepenuhnya oleh masyarakat, akan tetapi pasal ini memiliki kelemahan tersendiri menurut penulisnya, yaitu perumusan UU sisdiknas tentang penyerahan pelaksanaan pendidikan terhadap masyarakat ini masih ada intervensi pemerintah yang sejatinya kurang sesuai dengan maksud pendidikan berbasis masyakat yang sejatinya dalam pendidikan berbasis masyarakat, masyrakatlah harusnya menjadi “tuan” dalam pelaksanaanya. Baca selanjutnya…